AI dalam Pendidikan: Alat Memperdalam Pemahaman, Bukan Menggantikan Peran Manusia

Share

Di tengah percepatan adopsi teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan kerap dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah AI akan menggantikan peran guru dan pendidik? Namun berbagai riset dan praktik di lapangan justru menunjukkan pemahaman yang lebih utuh dan berlapis. AI bukan hadir untuk menggantikan peran manusia dalam pendidikan, melainkan sebagai alat yang dapat memperdalam pemahaman belajar ketika digunakan dengan tujuan yang jelas, dipandu oleh empati, serta berakar pada nilai-nilai pendidikan.

AI Bukan Pengganti Guru, tapi Penguat Pembelajaran

Riset yang mengevaluasi penggunaan AI generatif dalam pendidikan tinggi menunjukkan bahwa banyak pendidik dan siswa percaya guru tetap memiliki kualitas unik, seperti kemampuan berpikir kritis, koneksi emosional, dan pemahaman kontekstual yang tidak dapat sepenuhnya ditiru oleh mesin. AI dapat memperluas cara belajar, tetapi peran pendidik tetap tak tergantikan dalam membentuk makna dan pengalaman belajar yang bermakna. 

Selain itu, studi lain menegaskan bahwa AI dapat menyediakan pembelajaran yang dipersonalisasi, umpan balik cepat, dan analisis data pembelajaran real-time. Ini membantu siswa memahami materi lebih dalam dan mengatasi kelemahan mereka dengan lebih efektif. Namun demikian, AI tidak bisa menggantikan hubungan empatik dan konteks sosial-emosional yang hanya bisa dihadirkan manusia. 

Mengubah Peran Guru, Bukan Menghapusnya

Alih-alih “digantikan”, peran guru justru berevolusi:

  • Desainer Pembelajaran, yang merancang pengalaman belajar bermakna.
  • Fasilitator Diskusi & Refleksi, yang membantu siswa berpikir kritis dari informasi yang dihasilkan AI.
  • Pemberi Nilai & Tujuan, memastikan pendidikan tetap berakar pada nilai kemanusiaan. 

AI bisa membantu otomatisasi tugas administratif seperti penilaian awal, pembuatan rencana pelajaran, atau ringkasan materi. Ini memperluas waktu guru untuk fokus pada aspek esensial pendidikan  seperti memahami motivasi siswa, memfasilitasi dialog, dan menanamkan nilai berpikir kritis. 

Tantangan: Hindari “Belajar Pintar Tanpa Paham”

Namun, penggunaan AI tidak tanpa bahaya. Laporan OECD 2026 memperingatkan bahwa generatif AI bisa menciptakan “ilusi penguasaan”  di mana siswa tampak paham karena AI memberikan jawaban cepat, namun sebenarnya tidak memahami konsep secara mendalam. Jika tidak dikelola dengan baik, AI bisa membuat pembelajaran menjadi lebih seperti shortcut daripada eksplorasi kritis. 

Oleh karena itu, kecerdasan buatan dalam pendidikan harus diposisikan sebagai alat untuk memperdalam pemahaman, bukan sekadar memberikan jawaban. Guru dan pendidik perlu dibekali literasi AI, serta cara mengintegrasikannya dengan strategi pembelajaran yang demokratis dan bermakna.

Empati, Nilai, dan Tujuan: Fondasi Integrasi AI yang Sehat

AI tidak mempunyai empati, nilai, atau tujuan. Ia bisa merancang jalur pembelajaran yang efisien, tetapi nilai apa yang harus dipelajari? Bagaimana siswa menerapkan pembelajaran itu dalam konteks kehidupan? Apa tujuan kemanusiaan dari sebuah proses pendidikan? itu adalah pertanyaan manusia. 

Sebagai alat yang memperkaya pembelajaran, AI harus dikombinasikan dengan:

  • Tujuan Pendidikan yang Jelas – Apa yang ingin dicapai di setiap unit pembelajaran.
  • Empati dalam Interaksi Pengajaran – Memahami konteks sosial-emosional siswa.
  • Nilai Pendidikan yang Konsisten – Kreativitas, kolaborasi, dan berpikir kritis. 

AI dalam pendidikan bukanlah “pengganti manusia”, melainkan mitra yang memperluas kapabilitas guru dan siswa. Ketika dipandu oleh empati, nilai, dan tujuan yang teguh, AI dapat:

  • Mempercepat akses informasi dan personalisasi pembelajaran
  • Membantu guru mengoptimalkan waktu mengajar
  • Memberi umpan balik awal yang memperkuat pemahaman siswa

Namun peran manusia — pendidik, fasilitator, pemberi makna tetap tak tergantikan. Karena akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang apa yang kita tahu  tetapi bagaimana kita memahami, menerapkan, dan menghidupi pengetahuan itu dalam konteks kehidupan.

Referensi

  1. ScienceDirect. (2024). Generative AI in Higher Education: Perspectives of Students and Teachers on Collaboration Between Humans and AI.
    https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0191491X24000749
  2. MDPI – Sustainability. (2021). Artificial Intelligence in Education: Personalised Learning and Teacher Support.
    https://www.mdpi.com/2071-1050/13/22/12902
  3. OECD. (2024). Generative AI in Education: Risks, Opportunities, and Policy Considerations.
    https://www.oecd.org/education/ai-in-education/
  4. Education Week. (2024). AI Won’t Replace Teachers—But It Will Change Teaching.
    https://www.edweek.org/technology/opinion-ai-wont-replace-teachers-but-teachers-who-use-ai-will-change-teaching/2024/01
  5. Skogan Group. (2023). The Role of Teachers in an AI-Powered Education System.
    https://www.skogan.org/the-role-of-teachers-in-an-ai-powered-education-system/
  6. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2024). AI Harus Dikuasai dengan Kompetensi dan Keberadaban.
    https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2024/05/ai-harus-dikuasai-dengan-kompetensi-dan-keberadaban

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *